IMBAS penelaahan tatap muka (PTM) dalam sejumlah wilayah level 1-3 di Indonesia ada beribu-ribu siswa dilaporkan terinfeksi Covid-19. Tentunya saja kondisi itu harus menjadi evaluasi, jika memang pembelajaran tatap depan masih ingin diteruskan.

Sebab, selama periode pandemi Covid-19, banyak siswa yang dilaporkan mengalami learning loss (Ketertinggalan Pemberlajaran). Mengenaskannya lagi, dilaporkan sejumlah anak lupa cara membaca kelanjutan pembelajaran jarak jauh (PTT) yang dinilai kurang efektif.

Pakar Epidemiologi Universitas Grifftith Australia, Dicky Berbudi, menegaskan bahwa keputusan pemerintah untuk kembali melakukan PTM adalah pilihan yang langsung. Meski demikian, ada kaum poin yang masih kudu dikaji dan diperbaiki, biar PTM tersebut dapat berjalan dengan lancar tanpa melecehkan risiko penularan Covid-19.

“Jadi ada ciri yang sebenarnya jadi bercak lemah dan titik teledor yang harus diperbaiki. Sekolah harus tetap menjadi pengutamaan. Tapi tentu harus ditunda dulu kalau saat itu. Kalau dari sisi seorang epidemiolog, menyusun strategi pandemi seperti wabah maupun jadi orangtua ya tetap beta setuju PTM dengan adanya mitigasi risiko yang dikerjakan dengan sangat kuat, tetap, dan berkomitmen, ” perkataan Dicky, saat dihubungi MNC Portal, Jumat (24/9/2021).

Bertambah lanjut Dicky mengatakan, bila PTM tidak dilakukan maka jauh lebih besar buah kerugiannya. Sebab, jika berbicara sekolah, maka jauh bertambah penting masa depan anak-anak ini.

Petunjuk secara global epidemilogi, menunjukan anak-anak memang ada di dalam posisi paling rendah risikonya terinfeksi Covid-19. Tapi tidak berarti tidak mungkin berisiko terkena. Data global itu menyatakan risikonya sebesar 2% dan itu tidak jauh beda dengan Indonesia.

“Intinya Indonesia kudu mengkaji dan mencari mana titik lemah dan bercak lengah yang harus diperbaiki, termasuk dari manajemen pengoperasian Covid-19 di tingkat kawasan dan secara nasional bahwa datanya harus kuat dan valid, serta metodologinya kudu benar, ” tuntasnya.

(mrt)