IMBAS dari larangan mudik Lebaran membuat sebanyak tempat wisata dipadati tamu. Saking padatnya, orang-orang tersebut nampak saling berdesakan dan tidak menerapkan protokol kesehatan tubuh.

Padahal, pemerintah telah menetapkan larangan mudik guna meminimalisir pergerakan karakter dan menerapkan larangan tidak berkumpul. Tapi kerumunan karakter di tempat wisata mewujudkan usaha pemerintah untuk menurunkan angka Covid-19 tidak maksimal.

Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman, menerangkan kalau penyebaran virus corona pada Indonesia sudah pada tangga terburuk. Artinya, risiko penyebaran sangat mungkin terjadi.

“Indonesia sudah pada level penularan di komunitas. Itu level terburuk. Nusantara sudah satu tahun ada di level tersebut taat Badan Kesehatan Dunia (WHO). Jadi, kalau sudah tersedia aktivitas seperti itu, ya, sangat mungkin ada penularan, ” terang Dicky pada MNC Portal Indonesia.

Namun, ia menyayangkan bahwa upaya 3T (tracing, tracking, testing) Indonesia masih betul rendah. Oleh karena itu, dia menyarankan pemerintah wilayah yang memiliki tanggung pikiran atas kondisi lokasi wisata.

Jika benar dipenuhi masyarakat, maka bisa dilakukan tindakan antisipasi menyekat klaster lokasi wisata pasca lebaran yaitu dengan 8 poin berikut.    

1. Respons cepat, kuat, dan terukur pada setiap level negeri dan sektor. Jadi, seluruh bersiap skenario terburuk.

2. Strategi koneksi risiko dibangun dan dipelihara kualitasnya untuk membangun tanggapan risiko yang serupa pada semua pihak.

3. Penguatan surveilans, khususnya di fasilitas kesehatan, komunitas, dan genom harus diperbanyak.

4. Program deteksi kasus secara aktif dalam masyarakat (Community Outreach).

5. Penguatan sistem rujukan layanan faskes, menetapkan ketersediaan alat kesehatan dengan baik, dan sumber daya manusia yang berkualitas.

6. Akselerasi vaksinasi terhadap kelompok lansia dan komorbid.

7. Literasi kenormalan baru dengan mendukung 5M dengan pemberdayaan publik.

8. Penyiapan opsi PSBB Jawa-Bali dan luar Jawa terbatas.