SETELAH menghilang sebab media sosial dan podcast, Deddy Corbuzier mengejutkan terbuka dengan statementnya hampir wafat karena terkena Covid-19. Pasalnya, saat itu dia merasai badai sitokin dan paru-parunya rusak hingga 60 upah.

Selama kecil tersebut, dia pun dipantau ketat oleh Dokter Gunawan setelah berada di kala kritis ketika demam minggu kedua. Menurut dokter Gunawan jika minggu kedua masih demam, ada kemungkinan berlaku peradangan dalam tubuh dengan lebih luas dari dengan pertama dan kemungkinan anak obat mengalami badai sitokin.

Istilah tersebut dasar dikenal sebagai ‘second-week crash’. Banyak dokter melaporkan keparahan pasien mulai terjadi di momen ini. Karena itu, situasi ini mesti ditangani dengan benar agar mampu menyelamatkan nyawa pasien Covid-19.

Menjadi perkara sekarang mengapa demam minggu kedua Covid-19 itu bisa mematikan?

Patuh laporan The Washington Post, ada sedikit konsensus diantara dokter dan ahli mengenai mengapa demam hari kelima hingga kesepuluh tampak benar berbahaya bagi pasien Covid-19.

Deddy Corbuzier

Ebbing Lautenbach, besar divisi penyakit menular di fakultas Kedokteran Perelman University of Pennsylvania, berspekulasi bahwa ‘second-week crash’ berbahaya karena adanya pengaruh gen individu, efek virus pada jaringan paru-paru, imun yang terlalu aktif, pembekuan darah, hingga dampak dari penggunaan ventilator yang digunakan.

Lebih lanjut, menurut Naftali Kaminski, kepala perawatan parah paru dan obat rebah di Yale School of Medicine yang mempelajari genomik penyakit paru-paru menyatakan bahwa demam minggu kedua Covid-19 berbahaya karena pengaruh tahap awal virus masuk serta menginfeksi.

“Jadi, dapat digambarkan virus dengan sudah ada dalam tubuh dan menginfeksi, terus membakar lebih banyak sel untuk membiarkan masuk dan tetap menginfeksi lebih parah sedang, ” terangnya, dikutip MNC Portal, Selasa (24/8/2021).

“Karena sifat virus yang terus menginfeksi, itu memengaruhi susunan genetik dan kondisi yang ada sebelumnya dan membuat presentasi aib meningkat, ” tambahnya.

Di laporan tersebut pun diterangkan bahwa tersedia spesifikasi pasien Covid-19 dengan dikhawatirkan mengalami kondisi ‘second-week crash’, yaitu pasien Covid-19 tanpa gejala seperti penurunan kadar oksigen, sesak bernapas, atau kondisi kritis yang lain, dan pasien Covid-19 status parah yang terlambat memperoleh pertolongan karena masalah menunggui terlalu lama untuk mampu ICU bed.

“Orang-orang yang kritis ini sebenarnya sudah lama sakit, ” papar Merceditas Villanueva, seorang profesor kedokteran pada Yale School of Medicine.

“Jadi, mereka meremehkan gejala ringan atau mereka memang terlambat mendapatkan ICU bed, ” tegasnya.