Aksi terorisme yang terjadi di Makassar dan Mabes Polri pada Maret berantakan, memperlihatkan bahwa kaum rani ternyata juga rentan terlibat aksi terorisme.

Tak bisa dipungkiri, semakin hari jadi semakin terang terlihat keterlibatan kaum rani dalam aksi terorisme. Bersandarkan data dari literature BNPT tahun 2020, potensi radikalisme nyatanya disebutkan cenderung lebih tinggi pada kaum hawa.

  terorisme

Tertib itu untuk perempuan pada kalangan urban, generasi Z, dan bahkan dewasa bujang saat ini yang hadir dalam kategori generasi milenial dan kaum perempuan dengan aktif menggunakan internet.

Keterlibatan perempuan secara aksi terorisme sendiri, serupa disebutkan oleh Dra. Valentina Gintings, M. Si, Asisten Deputi Perlindungan Hak Rani Dalam Rumah Kementerian Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan & Anak (KemenPPPA) disebabkan banyak faktor.

Besar faktor utama yang siap penyebab, ialah faktor budaya patriarki yang melekat di kultur masyarakat Indonesia dan ketergantungan secara finansial nama lain ekonomi pihak istri di suami.

“Budaya patriarki, pemahaman istri itu harus ikut semua kata-kata suami. Ketergantungan dalam situasi ekonomi, karena enggak memiliki pegangan dari sisi ekonomi. Jadi apa kata suami ya ikut saja, menjadikan perempuan di posisi tak berdaya, ” kata Dra. Valentina, dalam media talk daring KemenPPPA, Rabu (7/4/2021).

Selain itu faktor-faktor lainnya, mulai dari faktor lingkungan sosial, adanya doktrin dari lingkungan sekitar, perbedaan pola pikir, keterbatasan dalam mengakses informasi bahkan sampai situasi perasaan trah perempuan disebutkan Valentina masing-masing punya peran andil mendaulat kaum perempuan makin banyak yang terlibat di gerak-gerik terorisme.

“Perempuan memiliki perasaan yang lebih sensitif, cenderung lebih penasaran, emosi labil juga. Keterbatasan akses informasi, contohnya dalam pedesaan, itu lingkup tempat kecil enggak pernah sanggup info luas soal radikalisme. Jadi gampang terpapar, jujur tercebur dalam kondisi, ” pungkasnya.

Masa ini, demi meredam laju paparan radikalisme pada suku perempuan yang berujung di keterlibatan perempuan di gerak-gerik terorisme. KemenPPA tengah menggiatkan strategi komunikasi kelompok perempuan sebagai pelopor perdamaian.

(DRM)