RUPANYA banyak kisah menarik yang dialami Anas Fauzi, penghulu jenaka yang viral asal Malang selama bekerja.

Pria dengan kini menjadi penghulu di Kantor Urusan Agama (KUA) Lowokwaru, Kota Malang sudah hampir bertugas 12 tarikh jadi penghulu

Anas menuturkan, sebelum bekerja di Kota Malang, ia terlebih dahulu bertugas pada sejumlah kecamatan di Kabupaten Malang. Setidaknya enam kecamatan yang pernah menjadi tempat tugasnya sejak 2009, secara menampilkan nasehat pernikahan jenaka.

  Anas

“Jadi penghulu 12 tahun silam sudah seperti itu, penghulu pertama tahun 2009 bertugas dalam Singosari, kemudian menjadi penghulu di Kromengan, terus Gondanglegi, Poncokusumo, Pujon, Ngantang, tarikh 0217 saya tugas di Lowokwaru. Gayanya sama, modelnya sama, ” ungkap Anas, ditemui Indonesia, di rumahnya, Malang, pada Rabu suangi (1/9/2021).

Pria yang kini sedang menempuh pendidikan doktor pada Pendidikan Islam Multikultural Universitas Islam Malang (Unisma) mengingat ada calon pengantin yang batal menikah, hanya sebab persoalan maskawin.

“Gegeran (pertengkaran) antara bahan manten (pengantin) putra dengan calon mertuanya tengkar, pasal maskawin sebab maskawin pelik diucap. Makanya kalau bakal ngasih maskawin itu tanpa yang susah diucap, ” terangnya.

“Yang mengantar dan menyebut bukan dirinya wali, kesulitan ngucap, akhirnya pegel (kesal) monting (pusing), akhirnya nggak jadi nikah. Kayak gitu tersedia, pernah, ” imbuh pria Pengasuh Ponpes Ar Rozzaq, Desa Slamperejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang ini.

Makanya Anas berpesan, agar para calon pengantin baru seharusnya memberikan mahar atau maskawin yang biasa, dan tidak terlalu rumit diucapkan. Mengingat maskawin bukan dibuat gaya-gayaan, melainkan objek hal yang sesuai kekuatan sang calon mempelai.

“Bahagia bukan sebab jenis maskawin, kaya bukan karena gayanya maskawin, suka itu Insya Allah karena hidup jujur, suami benar istri bahagia, bukan sebab maskawin, mau maskawin tirta minum segelas boleh, dengan penting harus diberikan & harus disesuaikan dengan kekuatannya, ” paparnya.

Di sisi lain, tersedia pesan pernikahan yang disampaikan juga kerap kali membuat calon pengantin dan pihak keluarga bersedih, lantaran hirau pengampu.

“Mengingat mendiang orang tua menjelma menangis itu biasa, ya biasa saja, tetap ada, ” ucapnya.

(DRM)