DKI Jakarta mulai memberlakukan sekolah tatap muka pada 610 madrasah per Senin, 30 Agustus 2021. Keputusan ini menyusul penurunan level PPKM dalam Ibu Kota menjadi lapisan 3.

Sebanyak 610 sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran tatap muka diatur dalam Surat Keputusan Dinas Pendidikan Nomor 883/2021 mengenai Penetapan Satuan Pendidikan dengan Melaksanakan Pembelajaran Tatap Membuang Terbatas Pembelajaran Campuran Periode I pada Masa PPKM.

Di sisi asing, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban menerima baik keputusan tersebut, terlebih DKI Jakarta menjadi wilayah di Indonesia dengan cakupan vaksinasi yang sangat mulia.

Sekolah Tatap Muka

“Jakarta bisa (memulai uji coba sekolah tatap muka) dengan hati-hati, terlebih cakupan vaksinasi dosis pertamanya sudah sangat tinggi, ” kata Prof Zubairi dalam Instagram pribadinya, yang dibagikan beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Sekolah Tatap Muka Segera Dijalankan, IDI: Durasi Belajar Perlu Dibatasi

Tetapi, ada beberapa catatan dengan dititipkan Prof Beri, nama akrabnya, ketika suatu daerah mau memberlakukan sekolah tatap muka. Salah satunya adalah memastikan siswa yang pegari ke sekolah itu anak yang sudah divaksin.

“Jadi, pembukaan balik sekolah untuk pembelajaran tatap muka diikuti oleh anak dengan usia tertentu, yang di mana dia sudah divaksin. Untuk itu, penting bagi sekolah memastikan berapa banyak siswa yang telah divaksin Covid-19, ” tambahnya.

Secara uraian, Prof Beri merekomendasikan tata cara sekolah tatap membuang aman dari Covid-19 sebagai berikut:

Sekolah Tatap Muka

1. Anak yang masuk sekolah telah divaksin

dua. Selalu pakai masker jika di kelas. Walaupun anak sudah divaksinasi, pakai masker adalah kewajiban selama jiwa anak berada di sungguh rumahnya. Wajib pakai kedok ini juga berlaku buat guru, tenaga administrasi keuangan, atau tamu yang pegari ke sekolah.

3. Sering cuci lengah pakai sabun. Karena itu, pihak sekolah mesti mempelajari ulang jumlah wastafel buat cuci tangan apakah sudah memenuhi syarat atau tidak, lalu wastafelnya berjalan tertib atau sudah rusak.

4. Satu kiai mengajar di satu bagian. Maka guru tersebut tidak disarankan mengajar di posisi lain, apalagi di zaman yang sama.